Wednesday, November 13, 2013

HAKIKAT OM part 1

Kata OM, bukanlah kata yang asing lagi bagi umat Hindu, di setiap pemujaan, pelafalan mantra atau doa selalu ada kata OM, tapi tidak semua umat mengerti dan memahami dengan seksama kata itu sehingga mengucapkan kata OM sama saja seperti mengucapkan kata yang lainnya. Agama Hindu terkenal dengan filsafatnya yang luar biasa dan bisa dikatakan sangat lengkap, salah satunya adalah pemberian nama OM atau penggunaan kata OM dalam setiap doa, padahal huruf pembentuknya merupakan huruf alfabetis, tapi apakah yang membedakan kata OM????





1. LAMBANG BRAHMAN
Dalam Hindu kepercayaan teringgi adalah percaya dengan adanya Brahman, Brahman merupakan sebutan untuk Tuhan, tertinggi dari semua yang ada di alam ini, ibaratkan seorang anak, ia akan menjawab bilamana dipanggil namanya, manusia yang sedang kesakitan, menderita dengan gamblang akan memanggil Tuhan, dan nama Tuhan dalam Hindu adalah OM. Om adalah segalanya, karena Om lah yang menyangga semua dunia, dunia ada karena OM dan tenggelam dalam OM.
OM dibentuk dari tiga huruf, A, U, M. huruf A melambangkan dunia fisik, U melambangkan dunia mental, dan astral, dunia roh, M melambnagkan tidur nyenyak, semua yang tidak diketahui, dan berada di luar dunia intelek bahkan dalam keadaan terjaga
Saat meditasi dengan mengucapkan Om sebanyak 3 kali, 6 atau 12 kali ini akan membantu menarik pikiran Anda dari  pikiran keduniawian dan  menghilangkan Viksepa( pikiran yang tidak tenang)
Kehidupan semua kata-kata adalah vowel( vocal), huruf vowel bisa mengucapkan dirinya sendiri dan bersinar sedangkan huruf konsonan adalah huruf mati yang tidak bisa mengucapkan dirinya sendiri. Sebuah konsonan bisa diucapkan dengan bantuan vowel, seperti halnya tubuh manusia yang bergantung pada jiwa, Atman. A dan U adalah adalah orang tua dari semua huruf yang lain dalam Sansekerta, Sansekerta memiliki lebih banyak vowel daripada bahasa yang lain.
Perhatikan nafas Anda dengan seksama, ketika menarik nafas terdengar kata "so", dan saat menghembuskan nafas terdengar "ham" yang secara alami anda mengucapkan "soham". "aku adalah dia", " ia adalah aku" bersama dengan setiap tarikan nafas. Dalam kata so dan ham. terdapat konsonan s dan h yang bila dihilangkan hanya ada kata oam atau Om.


 Om adalah lambang Brahman, ini suku kata murni, ketika Anda bermeditasi dengan mengucapkan Om maka Anda menyadari bahwa ini Sat-Cit-Ananda, keberadaan mutlak, pengetahuan mutlak, kedamaian mutlak.
Kenapa harus Om? apakah tidak ada kata lain selain Om?
Ucapkanlah Om selama satu jam atau 30 menit, lakukan dengan niat yang tulus, dan ucapkan kata yang lain selama satu jam, Anda akan merasakan perbedaannya. Terdapat hubungan langsung antara Om dan Brahman, ketika Anda menyebut atau mengucapkan Om, Anda akan langsung memilirkan atau mengingat gambaran tentang Brahman
Prana bergetar, panas terasa, udara yang panas menyentak organ vocal pada laring sehingga suara dihasilkan,
Suara A adalah suara inti ketika mengucapkan A, lidah tidak disentuh. Suara U bergerak dari akar menuju bagian lain dari mulut dihasilkan dengan menutup bibir. A melambangkan awal dan rangkaian suara, U melambangkan tengan dan M melambangkan akhir. 

Monday, November 4, 2013

SANKSI KESEPEKANG DAN RELEVANSI SAAT INI PADA MASYARAKAT BALI



http://3.bp.blogspot.com/-3G2uWA6ad7A/Tc96mcPxFMI/AAAAAAAAABU/MBZaMEHbmkk/s1600/Attorney-Law-Firm.jpg
      Agama Hindu adalah agama tertua dengan ajaran yang lengkap, tidak hanya menyangkut hubungan secara horisontal  ke atas dengan Tuhan, namun juga horizontal ke bawah kepada lingkungan dan vertikal terhadap sesama manusia oleh sebab itulah simbol dari agama Hindu disebut Swastika. Sebuah filosofi yang menuntut adanya keseimbangan lahir batin. Dalam ajarannya hal tersebut dikonsepsikan dalam sebuah konsep yang menjadi inspirasi bagi dunia yaitu Tri Hita Karana, tiga penyebab keharmonisan yang terdiri atas parahyangan, pawongan, dan palemahan. Hubungan manusia dengan Tuhan dijadikan sebagai sebuah keyakinan yang tidak bisa dibantah, hubungan antarmanusia dimana manusia merupakan makhluk sosial, dan hubungan manusia dengan lingkungan.

Friday, November 1, 2013

SUDAHKAH KITA BERAGAMA????



Salah satu cara untuk menambah ilmu adalah mendengarkan, seperti halnya para Rsi saat beliau melakukan tapa semedi mendengar wahyu dari Ida Sang Hyang Widhi yang kemudian beliau tulis menjadi kitab-kitab suci yang penuh dengan ajaran-ajaran Tuhan. Sekiranya kita sebagai umat meneladani sikap tersebut, dengan cara mendengarkan dharma wacana oleh pedanda atau pandita, pemangku atau pinandita  maupun oleh para akademisi yang berkompeten dalam hal agama. Saat ini media televise di Bali telah memiliki program dharma wacana yang ditayangkan setiap hari sehingga kita tidak harus menunggu upacara di pura untuk bisa mendengarkan dharma wacana. Nah, artikel yang penulis buat kali ini merupakan ringkasan dari sebuah acara dharma wacana dengan narasumber seorang tokoh akademisi yang juga telah membuat berbagai artikel di beberapa majalah bahkan sudah ada yang dibukukan, beliau adalah Drs. I Gusti Ketut Widana, M.Si. Adapun topik yang dibahas sangat menarik karena ini menyangkut, waktu yang digunakan manusia untuk melaksanakan kegiatan keagmaannya yang diidentikkan dengan orang beragama, maksudnya orang dikatakan beragama jika ia sudah menjalankan tugas atau kewajibannya akan kegiatan keagamaan, dengan judul SUDAHKAH KITA BERAGAMA?????

Tuesday, October 29, 2013

RESENSI BUKU SADUPANISAD
            Buku Sadupanisad memaparkan isi enam bagian upanisad yang masing-masing menjelaskan tentang ajaran-ajaran Tuhan dan alam semesta termasuk hakekat tentang kehidupan manusia. Bagian-bagian itu meliputi :1) isa upanisad, memaparkan tentang kekuasaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta yang maha sempurna dan juga ajaran agar manusia dalam setiap kegiatanya berorientasi pada Tuhan agar dapat mencapai tujuan hidup tertinggi yaitu penyatuan dengan beliau. ; 2) Svetasvatara Upanisad, memaparkan tentang hakekat Tuhan (Rudra) yang maha Agung yang tak terlahirkan dan termusnahkan dan ada pada setiap jiwa mahluk hidup. Di jelaskan pula cara besatu dengan beliau adalah dengan beryoga melepaskan segala ikatan duniawi baik pikiran,perkataan dan perbuatan ; 3) Katha Upanisad, memaparkan rahasia kematian, hubungan Atman dan Brahman, sifat-sifat atma, memaparkan tentang makna “Om” sebagai aksara suci dan cara mencapai Brahman dengan mengendalikan Indra; 4) Madukya Upanisad, memaparkan tentang Om yang merupakan bunyi tunggal yang abadi dari kesadaran tertinggi dan memaparkan tentang Atman yang unsurnya adalah Om; 5) Prasna Upanisad, memaparkan tentang hakekat alam semesta dan unsurnya yang tercipta oleh Brahma, yang setiap orang selalu menggambarkannya (Brahman) dalam segala bentuk; 5) Mundaka Upanisad, memaparkan tentang Ilmu Pengetahuan yang berasal dari Brahma, juga memaparkan tentang landasan Yadnya dan manfaatnya. Dan cara mencapai kebaikan (Brahman) dengan Raja yoga atau semedi.

KARMA PHALA



Karma phala

Istilah karma saat ini tidak hanya sering diucapkan oleh umat Hindu tetapi juga oleh umat lain, ini mengindikasikan bahwa ajaran Hindu memang universal dan dapat digunakan oleh semua umat, tapi apakah sebenarnya karma, atau yang lebih identik dengan karma phala???
Karma phala merupakan bagian ketiga dari Panca Sradha. Berasal dari bahasa Sansekerta yaitu kata karma dan phala, karma merupakan akar kata “kri” yang artinya adalah perbuatan, tindakan, atau kerja (Pendit, 1995: 202). Sedangkan phala diartikan sebagai hasil, sehingga bila digabung pengertiannya menjadi karma phala adalah segala sesuatu hasil yang diperoleh dari setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia, perbuatan yang baik (subha karma) ataupun perbuatan yang buruk (asubha karma). 

Thursday, October 17, 2013

DEHUMANISASI PENDIDIKAN

PENDIDIKAN SARANG DEHUMANISASI??????

Berkembangnya sekolah-sekolah dengan kategori standar internasional atau bertaraf internasional merupakan sebuah kemajuan bagi Indonesia dalam bidang pendidikan. Adanya sekolah bertaraf internasional tidak terlepas dari keinginan Indonesia untuk menunjukkan bahwa Indonesia dapat bersaing di kancah internasional. Untuk dapat disebut sebagai sekolah standar internasional sudah menjadi sebuah keharusan bagi sekolah untuk memenuhi segala syarat yang telah ditetapkan baik dari segi tenaga pendidik sampai sarana prasarana. Demi menunjang persyaratan tersebut diperlukan dana yang tidak sedikit tentunya. Dibangunnya sekolah  dan perguruan tinggi elit di Indonesia boleh jadi membanggakan karena merupakan sebuah usaha untuk menjawab tantangan dari bidang ekonomi( Buchori, 1995:54).

Sunday, June 23, 2013

GUNA DALAM BHAGAWAD GITA



Ajaran agama Hindu yang  tercantum dalam kitab Weda tersebar dalam berbagai kitab suci lainnya yang dikodifikasikan oleh para rsi. Kitab suci lain yang disebut adalah kitab smerti, lontar-lontar yang  disesuaikan dengan adat daerah tempat agama Hindu berkembang. Kitab suci agama Hindu memang satu yaitu Weda, namun karena ajarannya yang sangat komplek dan detail para rsi mengkodifikasikannya menjadi beberapa kitab untuk memudahkan umat dalam mempelajari Weda. Salah satu kitab suci agama Hindu adalah Bhagawad Gita yang disebut-sebut sebagai Pancama Weda atau Weda kelima setelah Catur Weda.Disebut Weda kelima karena Bhagawad Gita merupakan rangkuman tentang keseluruhan ajaran Weda yang diberikan oleh Kresna kepada Arjuna ketiga akan berperang. Dalam Bhagawad Gita memuat hal-hal yang berkaitan dengan makrokosmos dan mikrokosmos termasuk di dalamnnya tentang sifat-sifat dari manusia. Kelebihan manusia terletak pada pikirannya, karena hanya manusia yang memiliki pikiran. Pikiran digunakan untuk menentukan baik, buruk, benar, salah sehingga manusia dapat terlepas dari reinkarnasi dan dapat menjalani hidup sesuai dengan tujuan agama Hindu, tetapi pada nyatanya masih terdapat manusia yang belum  mampu mengendalikan semua yang ada dalam dirinya terbukti dengan maraknya perbuatan kriminalitas, merosotnya sifat welas asih yang mebuat hidup manusia semakin menderita. Sifat manusia tersebut tidak terlepas dari yang namanya guna, untuk itu penulis mencoba mengulas guna dari sudut pandang Bhagawad gita sebagai Pancama Weda.